Yang perlu Anda ketahui dari debat terakhir Pilgub DKI Jakarta 2017

BBC.COM Indonesia - Debat terakhir dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 akan diadakan pada Rabu (12/4) pukul 19.30. Debat yang berlangsung selama dua jam ini akan sedikit berbeda dari debat-debat sebelumnya.
Debat perdana - dan satu-satunya - setelah putaran pertama pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 ini akan dibagi dalam tiga segmen.
Bagaimana tata cara di setiap segmen dan apa saja yang membedakan debat kali ini dengan debat-debat sebelumnya?
- Enam hal soal debat perdana calon gubernur DKI Jakarta
- Debat kedua cagub DKI Jakarta: Masih 'dangkal' dan 'normatif'
- Membangun Jakarta? Debat kedua cagub Jakarta dinilai lebih baik
Segmen 1 - Pertanyaan moderator
Kepala KPU DKI Jakarta, Sumarno, berkata, berbeda dari debat-debat sebelumnya, pada pembukaan segmen debat kali ini para pasangan calon tidak perlu membeberkan visi-misi mereka.
Pada segmen pertama, moderator akan menanyakan sejumlah pertanyaan yang sudah dipersiapkan para panelis.
Namun, Sumarno tidak dapat membeberkan topik-topik yang akan ditanyakan dalam segmen ini karena "KPU memberikan mandat penuh kepada panelis untuk merumuskan pertanyaannya".
Dalam segmen ini moderator akan melontarkan pertanyaan terkait tema kampanye para calon. Jawabannya kemudian akan ditanggapi oleh lawan calon dan akan direspons kembali oleh para calon.
- Debat cagub Jakarta: "miskin inovasi, kurang inovasi, inovatif tapi utopis"
- Seberapa realistis program kerja tiga kandidat gubernur Jakarta?
Segmen 2 - Format 'town hall'
Di sini, beberapa perwakilan kelompok masyarakat diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada para kandidat.
Sumarno menjelaskan ada empat komunitas yang akan dipilih mewakili permasalahan masyarakat akar rumput di Jakarta: warga yang tidak memiliki tempat tinggal atau bermukim di rumah susun, nelayan, pengguna transportasi umum, dan kelompok pedagang kecil.
Komunitas tersebut dipilih oleh para panelis yang terdiri dari para akademisi yang tidak terafiliasi dengan para kandidat atau partai politik.
"Kebetulan para akademisi itu punya kelompok-kelompok binaan masyarakat, mereka sering melakukan riset sehingga memiliki relasi dengan kelompok masyarakat itu," terang Sumarno.
"Yang menjadi pertimbangan utama kami mereka tidak terafiliasi dengan salah satu calon, mereka juga adalah kelompok independen, bukan relawan atau simpatisan dari calon tertentu."
Komentar
Posting Komentar